Memuat…
Memuat…
林業 · Bab 3
Peran reboisasi dalam pembuatan hutan buatan/alami, metode pengolahan lahan, jenis-jenis bibit pohon dan cara memilih bibit yang baik, serta perlindungan hutan dari kerusakan satwa liar dan penyakit.
Modul ini merangkum No.06 Jenis-jenis dan Tujuan Pekerjaan Reboisasi serta No.07 Pekerjaan Reboisasi yang Aman. Reboisasi (更新) adalah proses pembuatan dan pembudidayaan hutan lewat penanaman spesies pohon bermanfaat di lahan bekas tebangan, kadang memakai tunas dari tunggul pohon atau benih yang jatuh alami. Karena membudidayakan hutan membutuhkan waktu puluhan tahun, kesalahan besar di tahap ini sangat sulit diperbaiki — sehingga reboisasi menuntut pengetahuan luas dan pengambilan keputusan yang matang.
Pembudidayaan hutan buatan menanam & mengelola pohon pilihan di habitat yang cocok, dengan keunggulan bisa memilih spesies/varietas unggul untuk pembaruan yang cepat dan efisien. Risikonya: jika penjarangan diabaikan saat tegakan sudah lebat, pohon-pohon tetap kecil dan rentan tumbang bersama akibat angin/salju, kanopi yang berdempetan membuat hutan gelap dan tumbuhan lantai hutan berkurang sehingga tanah rentan tererosi air hujan.
Pembudidayaan hutan alami mengandalkan campur tangan manusia yang lebih sedikit (regenerasi alami), penting sebagai habitat satwa liar dan lanskap musiman, namun berisiko menghasilkan banyak pohon berbentuk buruk atau tidak berguna secara komersial jika dibiarkan tanpa intervensi seleksi.
Pengolahan lahan adalah langkah pertama reboisasi: membersihkan ujung batang & dahan sisa tebangan, semak, dan rerumputan, lalu menata lahan agar mudah ditanami dan pohon baru bisa berakar kuat. Alat yang dipakai: sabit, parang, gergaji tangan, kadang gergaji mesin untuk semak besar. Tiga metode utama:
| Metode | Cakupan |
|---|---|
| Pemotongan menyeluruh (zengari) | Membersihkan semua semak & ilalang di seluruh area |
| Pemotongan perbaris (suji gari) | Membersihkan jalur/baris tertentu saja |
| Pemotongan lahan datar | Membersihkan area-area terpilih yang sudah ditentukan |
Sisa dahan & batang ditangani sesuai kondisi: disebar merata bila sedikit, disusun berbaris dengan interval 4-8m bila banyak, atau disusun mengikuti garis kontur di lahan miring untuk mencegah erosi permukaan tanah — bahan organik ini juga menjadi sumber nutrisi dan mencegah pengeringan lahan.
Pemilihan bibit mempertimbangkan kemudahan penanganan, kemudahan penanaman, dan harga:
| Jenis bibit | Karakteristik |
|---|---|
| Bibit pohon (tanpa tanah) | Bibit paling umum & termurah (~separuh harga bibit pot), akarnya terlihat sehingga mudah diperiksa kualitasnya, tapi rentan layu-kering — harus ditanam saat tidak aktif (awal musim semi/gugur) |
| Bibit pot semai | Dibudidayakan dalam pot multi-rongga tanpa dasar sehingga akar berhenti tumbuh saat kena udara (mencegah akar menggulung); lebih mahal tapi waktu budidaya lebih singkat |
| Bibit pot | Ditempatkan di pot polietilen hitam berisi tanah, umum untuk pohon berdaun lebar; berat & mahal, dan berisiko akar menggulung (looping) bila terlalu lama di pot |
| Bibit tabung | Dibudidayakan dalam tabung irigasi polietilen/keramik berdiameter kecil, cocok untuk konifera, ringan & cepat dibudidayakan |
Bibit yang baik dinilai dari tiga hal: (1) Akar — sistem perakaran padat di dekat pangkal, hindari bentuk "kaki burung" (kerapatan tidak merata) atau akar menggulung; (2) Inti/poros batang — satu poros utama tumbuh lurus, hindari inti yang terbagi 2-3 atau tumbuh terlalu tinggi (lemah), dan titik tumbuh di ujung inti tidak boleh rusak; (3) Warna daun — hindari daun tipis/kekuningan atau kemerahan di luar musimnya, serta daun yang berubah warna karena penyakit.
Pada 2019, kerusakan hutan akibat satwa liar mencapai sekitar 4.900 hektare secara nasional, dengan rusa menyumbang sekitar 71% kerusakan.
| Satwa | Jenis kerusakan | Langkah pengendalian |
|---|---|---|
| Rusa | Memakan pucuk/dahan/daun muda, mengupas kulit pohon dengan tanduk, menginjak-injak bibit reboisasi | Pagar pelindung sekeliling kawasan reboisasi, semprot cairan pengusir |
| Tikus (termasuk tikus Ezoyachi Hokkaido) | Memakan kulit kayu & akar bawah tanah, menyebabkan kematian pohon | Penyemprotan rodentisida (zinc fosfida) |
| Beruang | "Kumahagi" — mengupas kulit pohon besar dengan kuku & gigi, pohon layu bila kulit terkelupas melingkar | Membungkus batang dengan pita polietilena/wire mesh |
Selain pengendalian kerusakan, dilakukan juga pengontrolan populasi lewat penangkapan sistematis oleh dewan pengendalian kerusakan satwa liar di tiap wilayah. Untuk penyakit pohon, patogen utamanya adalah jamur berserabut; kepadatan patogen meningkat saat pohon melemah akibat cuaca ekstrem, kondisi tanah tidak sesuai, atau tekanan lingkungan seperti kelembapan tinggi dan angin kencang.