Memuat…
Memuat…
漁業 · Bab 4
Empat metode penangkapan berbasis pancing — huhate cakalang, pancing cumi-cumi otomatis, rawai tuna, serta rawai dasar dan rawai dasar tegak — beserta alat, kapal, dan prosedur operasionalnya.
Modul ini merangkum subjek Perikanan Pancing dari materi persiapan ujian keterampilan 特定技能1号 sektor 漁業 (Gyogyō) — penangkapan ikan, disusun oleh Asosiasi Perikanan Jepang (大日本水産会). Empat metode penangkapan berbasis pancing dibahas di sini: huhate cakalang, pancing cumi-cumi otomatis, rawai tuna, serta rawai dasar & rawai dasar tegak.
Dilakukan di perairan pesisir Jepang, laut lepas Samudra Pasifik, dan perairan tropis kepulauan sekitarnya. Target utamanya cakalang, albakora, tuna sirip kuning, dan tuna mata besar — plus tangkapan sampingan seperti lemadang, tuna peluru, tuna sda, ekor kuning, dan rainbow runner.
Alat tangkap. Tongkat pancing (dulu bambu, kini umumnya fiberglass) panjangnya 2,5–4,5 m tergantung posisi memancing di kapal — makin dekat ujung kapal, makin panjang tongkatnya; tongkat panjang dipakai untuk umpan hidup, tongkat pendek untuk umpan tiruan. "Mesin pancing otomatis" bertenaga hidrolik/listrik kini juga dipakai menggerakkan tongkat secara otomatis untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja. Benang pancingnya terdiri dari senar utama (fishing line) yang disambung snell sepanjang 20–30 cm di ujungnya tempat kail dipasang. Bila cakalang menggigit umpan dengan mudah, dipakai kail tanpa duri (agar ikan otomatis terlepas begitu diangkat ke udara); bila gigitannya sulit, dipakai kail berduri dengan umpan hidup terpasang.
Metode operasi. Begitu kawanan ikan ditemukan, kapal melaju penuh kecepatan menyusulnya lalu memposisikan haluan di belakang kawanan. Umpan hidup disiapkan dalam ember berisi air laut di tong lempar sisi kiri haluan. Saat tiba di lokasi, air laut disemprotkan dari haluan hingga buritan kiri untuk merangsang pergerakan cakalang, sementara umpan hidup disebar ke permukaan air memakai jaring sendok. Bila ikan merespons baik, kail tanpa umpan (kail polos) langsung dipakai memancing — begitu ikan tersangkut, langsung ditarik dalam satu gerakan sehingga ikan terlepas sendiri di udara/dek dan meluncur ke palka. Bila responsnya kurang baik, dipakai kail berduri dengan umpan hidup — ikan yang tertangkap dipegang tangan kiri, kail dilepas tangan kanan, baru dilemparkan ke palka. Pemancing berpengalaman biasanya diposisikan di haluan, sedangkan pemula/level menengah di buritan kiri. Kehati-hatian ekstra diperlukan saat mengangkat ikan yang berenang menyamping karena kail berisiko tersangkut ke tubuh/tali pancing rekan kerja.
Pengolahan hasil tangkap. Untuk menjaga kesegaran, kapal ikan pesisir mendinginkan hasil tangkap dengan air campuran laut & air tawar (umumnya 0–2°C) di dalam freezer. Saat pendaratan, ikan ditarik satu per satu dengan tangan oleh kru berjas hujan & sarung tangan kerja, lalu dioper berantai ke dermaga.
Target utamanya empat jenis cumi-cumi perairan Jepang: Surume Ika (Japanese common squid), Yari Ika (calamary), Kensaki Ika (swordtip squid), dan Aka Ika (neon flying squid). Penangkapan bisa dilakukan siang hari, tapi lebih umum malam hari memakai lampu pemikat (fish lamp) untuk mengumpulkan cumi di sekitar kapal, lalu dipancing dengan umpan tiruan berbentuk cumi ("Ikazuno").
Jangkar parasut (Para-anchor). Dipasang dari haluan agar kapal bergerak mengikuti arus pasang — mencegah benang pancing kusut selama operasi.
Mesin pancing cumi otomatis memakai drum/reel penggulung benang; begitu diputar, alat pancing bergerak naik-turun otomatis lalu menarik cumi ke atas. Panel kontrolnya mengatur kecepatan penebaran benang, kedalaman air, dan kecepatan pengangkatan. Pada tali pancing sepanjang ± 200 m, dipasang sekitar 20–30 Ikazuno berjarak ± 1 m satu sama lain, dengan pemberat di ujung paling bawah dan kili-kili (Sarukan/Yorimodoshi) di antara sambungan benang untuk mencegah puntiran. Cumi hasil tangkap jatuh ke meja penangkapan di bawah drum, lalu mengalir lewat Shutter di pagar kapal menuju area pengemasan. Lampu pemikat yang umum dipakai adalah lampu metal halide, kadang halogen (lebih tahan lama).
Tahapan operasi: berangkat membawa kotak & es → sebelum matahari terbenam, tentukan lokasi berdasarkan suhu air, angin, arus pasang, dan data detektor kawanan ikan → siapkan mesin pancing & meja hasil tangkap, lempar jangkar parasut, lalu arahkan kapal melawan angin dengan spanker sail → nyalakan fish lamp sekitar matahari terbenam (jumlah lampu maksimal di awal, dikurangi bertahap saat cumi berada di kedalaman & menjelang fajar) → turunkan alat pancing sesuai kedalaman cumi berdasarkan data detektor & sonar, tarik dengan mesin otomatis (antar-mesin diberi jeda beberapa detik saat menurunkan benang agar tidak kusut) → cumi yang tertarik lepas dari kail otomatis mengalir lewat Shutter, disortir ukurannya, lalu dikemas hidup/segar (kapal pesisir) atau dibekukan (kapal jarak jauh) → setelah selesai, simpan pemberat, meja tangkap, spanker sail, dan angkat jangkar parasut secara berurutan.
Pengemasan & pembongkaran. Untuk pengiriman segar, cumi dikemas dalam kotak styrofoam dengan metode Shitagoori: lapisan es hancur & plastik di dasar kotak, baru cumi berukuran seragam dijajarkan di atasnya (± 5–6 kg per kotak) — metode ini menjaga warna kecoklatan alami tubuh cumi (kontak langsung dengan es membuat warnanya memutih). Kualitas dinilai dari warna tubuh, kekenyalan, dan transparansi untuk sashimi. Kapal jarak jauh membekukan cumi dalam wadah "pan" sesuai ukuran memakai mesin freezing, kadang dengan teknik "Tsubonuki" (hanya bagian badan yang dibekukan setelah organ dalam & lengan dicabut).
Alat tangkap rawai tuna terdiri dari tali utama (Mikinawa) yang sangat panjang, tali cabang (Edanawa) berkail yang digantung berkala di sepanjang tali utama, bola pelampung (Aba), dan tali pelampung (Ukinawa) — jarak antar-bola pelampung disebut satu unit "Hitohachi". Dipraktikkan di seluruh perairan dunia termasuk sekitar Jepang.
Target tangkapan: tuna sirip biru utara/Kuromaguro (disebut juga Honmaguro/Shibi; anakan disebut Yokowa/Meji), tuna mata besar/Mebachi (anakan Daruma), tuna sirip kuning/Kihada (anakan Kimeji), dan albakora/Binnaga (Bincho/Tonbo) — beserta jenis marlin (Makajiki, Kurokajiki, Shirokajiki), ikan pedang (Mekajiki), dan ikan layaran (Bashokajiki). Tangkapan sampingan utamanya cakalang, tenggiri, lemadang, opah, mola, dan hiu. Umpan yang dipakai antara lain selar (Aji), ikan layang, selar bentong, cumi-cumi, sarden, dan selangat.
Komposisi alat. Tali utama sepanjang 100–120 km disimpan dalam kotak tali/gulungan di kapal; tali cabang berkail berduri dipasang ke tali utama dengan peniti berjarak ± 50 m; bola pelampung plastik berdiameter 300 mm (2–3 unit disambung menyesuaikan daya apung) dihubungkan lewat tali pelampung ± 30 m (menentukan kedalaman pemasangan tali utama); tiang bendera menandai titik awal penarikan rawai; pelampung radio memancarkan sinyal agar posisi rawai bisa dilacak; dan lampu pelampung membantu menemukan posisi tali saat penarikan malam hari.
Peralatan pendukung: Line shooter menebar tali utama dari kotak/gulungan dengan kecepatan tertentu; Master Hooking memberi sinyal suara penanda posisi pemasangan tali cabang & bola pelampung; mesin umpan melempar umpan ke kail secara otomatis. Untuk penarikan, dipakai Line hauler (menarik tali utama, hidrolik/listrik) dan Blanc Reel (menggulung tali cabang jadi koil otomatis begitu dilepas dari Side Roller). Tali utama disimpan dengan tiga sistem: Winder/Line Arranger (kotak tali di dekat buritan), Reel (gulungan besar tunggal), atau Magreel (beberapa reel kecil yang bisa diganti).
Tahapan operasi: setelah alat pancing ditebar & stabil, tunggu sekitar 4 jam hingga ikan tertangkap (disebut masa "menunggu tali"; dalam metode Nawamawari, kapal berkeliling & kembali ke titik awal penebaran selama masa tunggu) → seluruh awak menarik tali utama secara bergiliran di posisi masing-masing, berlangsung sekitar 12 jam.
Penanganan ikan di atas kapal (metode semi-dress untuk Mebachi/Kuromaguro/Kihada): (1) potong sirip ekor lalu segera matikan ikan; (2) matikan ikan seketika (Shimeru) — pukul kepala untuk ikan kecil, atau tusuk otak/sumsum tulang belakang dengan alat runcing untuk ikan besar, demi menjaga kesegaran daging; (3) Chinuki/pengeluaran darah — sayat pangkal sirip dada & alirkan air laut lewat penutup insang; (4) pencabutan insang & organ dalam — sayat dari anus ke sirip perut, pisahkan usus dari anus, lepaskan sambungan insang-rahang, lalu cabut insang beserta organ dalam sekaligus, dan potong sirip yang tersisa; (5) pembekuan cepat di ruang pendingin khusus dengan celah antar-ikan agar sirkulasi udara dingin merata; (6) glazing — setelah beku minimal 12 jam, rendam/siram badan ikan dengan air segar hingga terlapis es tipis (mencegah pengeringan & denaturasi), baru dipindahkan ke ruang penyimpanan; untuk operasi di sekitar Jepang, alternatifnya memakai pendinginan air dingin/es hancur tanpa pembekuan penuh.
Metode ini umum dipraktikkan di perairan pesisir Jepang untuk beragam jenis ikan, dari ikan pelagis hingga ikan dasar laut. Struktur dasarnya serupa: tali utama direntangkan horizontal di dekat dasar laut, dijaga kedalamannya oleh pelampung & pemberat lewat tali pelampung/tali pemberat, dengan tali jangkar di ujung bawah tali pelampung, dan kail dipasang berkala di sepanjang tali utama.
Target tangkapan: rawai dasar biasa menyasar ikan pipih, ikan sebelah, ikan tile, sea bream merah, dan kod Pasifik; rawai dasar tegak menyasar alfonsino, rockfish, rosy seabass, black porgy, dan kod Pasifik.
Komposisi alat (rawai dasar biasa): tali utama (berat jenis lebih besar dari air, tipis, kuat, panjang, diberi pemberat berkala) yang dihubungkan ke tali cabang lewat ikatan bernama "tsubo" — atau pada model terintegrasi, tali utama & cabang disatukan sepanjang 100–200 m membentuk satu keranjang alat; tali pelampung/tali berdiri yang menghubungkan tiang bendera, tali jangkar, dan tali utama; Bonden (tiang bendera) sebagai penanda & penggantung tali penerima; mata kail berduri (mencegah ikan lepas) yang diikat lewat tali haris; serta jangkar (kadang diganti pemberat/batu) untuk menambatkan alat ke dasar laut.
Komposisi alat (rawai dasar tegak): serupa, dengan tambahan pelampung kecil berkala di tali utama agar alat tangkap sedikit terangkat dari dasar laut, cincin pengikat ("pot" — kadang diganti braket logam) untuk tali cabang, serta setiap tali cabang membawa 5–10 kail sekaligus dengan pemberat di bagian bawah & sambungan klip di bagian atas; celah disisakan antar-ikatan tali cabang agar tidak kusut.
Metode operasi (identik untuk kedua jenis rawai dasar): (1) melempar tali — umpan dipasang & ditata rapi di kail lebih dulu, kapal diarahkan searah hilir arus pasang surut, jangkar dijatuhkan lebih dulu lalu tali jangkar-tali apung-tali utama dilepas berurutan sambil tiang bendera/pelampung radio dipasang di ujung atasnya (kecepatan kapal ± 2–3 knot untuk kapal <5 ton, 3–5 knot untuk kapal >5 ton); (2) menunggu tali — dibiarkan stabil dari sekitar satu jam hingga satu hari tergantung target & wilayah, waktu ini bisa dipakai kembali ke titik awal penebaran; (3) mengangkat tali — kapal kecil (<5 ton, 2–3 awak) bekerja di buritan, kapal besar (>5 ton, 5–10 awak) di haluan, memakai mesin pengangkat tali/roller tiga arah yang menjepit & menarik tali utama lewat rol karet; dimulai dari menaikkan tiang bonden, menarik tali pelampung & jangkar, lalu tali utama dilewatkan roller tiga arah & digulung mesin pengangkat sambil tali cabang (dan pelampung bola untuk rawai tegak) dilepas satu per satu, dengan ikan hasil tangkap langsung dipindah ke palka/kotak ikan.
Materi di atas dirangkum & disusun ulang dari "Buku Teks Untuk Tes Keterampilan Perikanan (Perihal Penangkapan Ikan)" terbitan Asosiasi Perikanan Jepang (大日本水産会), untuk keperluan belajar mandiri persiapan ujian 特定技能1号 sektor 漁業. Dokumen sumber menyertakan diagram konstruksi alat pancing & foto peralatan yang tidak sepenuhnya tertuang di sini — gunakan tombol "Baca Modul" di atas untuk melihatnya langsung.
Latihan Soal