Memuat…
Memuat…
漁業 · Bab 3
Enam metode penangkapan berbasis jaring — pukat cincin, jaring insang, pukat hela dasar, jaring tetap, bubu, dan jaring tangkap batang — beserta alat, kapal, dan prosedur operasionalnya.
Modul ini merangkum subjek Perikanan Jaring dari materi persiapan ujian keterampilan 特定技能1号 sektor 漁業 (Gyogyō) — penangkapan ikan, disusun oleh Asosiasi Perikanan Jepang (大日本水産会). Enam metode penangkapan berbasis jaring paling umum di Jepang dibahas di sini: pukat cincin, jaring insang, pukat hela dasar, jaring tetap, bubu (perangkap), dan jaring tangkap batang.
Pukat cincin menangkap ikan dengan mengurung kawanan ikan menggunakan jaring panjang berbentuk selempang/ikat pinggang, lalu mengencangkan bagian bawah (kaki jaring) seperti menutup kantong agar ikan tidak lolos sebelum diangkat. Target utamanya adalah ikan pelagis bergerombol besar di perairan sekitar Jepang: teri, sarden, selar (Aji), makarel (Saba), cakalang (Katsuo), albakora (Binnaga), tuna sirip kuning (Kihada), tuna sirip biru (Kuromaguro), dan ekor kuning (Buri).
Metode operasional. Berdasarkan waktu, penangkapan dilakukan siang hari (langsung mendatangi kawanan ikan atau kawanan yang berkumpul di sekitar kayu hanyut/terumbu/rakit buatan) atau malam hari (mengumpulkan ikan dengan lampu pemikat lebih dulu). Berdasarkan susunan kapal, ada metode kapal tunggal (satu kapal jaring dibantu sekoci) dan metode armada (satu kapal jaring dibantu kapal pencari ikan, kapal lampu, dan kapal pengangkut).
Peralatan mekanis utama yang terpasang di kapal jaring pukat cincin:
| Alat | Fungsi |
|---|---|
| Net hauler (mesin penarik jaring) | Menjepit & menarik jaring yang dibundel dari sisi pelampung hingga sisi dasar; model terbaru (triplex) memakai tiga rol berputar. |
| Side roller | Menarik jaring ke atas kapal memakai gaya gesekan dari rol berputar bertenaga hidrolik di sisi lambung. |
| Power block | Mengangkat bundelan jaring yang sudah ditarik Net Hauler ke posisi tinggi lalu menurunkannya ke area penyimpanan jaring. |
| Purse winch (kerekan pukat) | Menggulung kawat kolor (purse wire) yang mengerutkan kaki jaring setelah jaring dilempar. |
| Ball roller (bola penggulung) | Dua bola karet berputar yang menjepit & menggulung jaring di sisi penangkapan. |
| Pompa penyedot ikan | Memindahkan hasil tangkapan yang sudah terkurung jaring ke kapal pengangkut, atau membongkarnya di pelabuhan. |
| Sekoci (recko boat) | Perahu kecil pendukung yang membawa salah satu ujung jaring saat pelemparan & menopang bentuk jaring saat penarikan. |
Struktur jaring pukat cincin terdiri dari tali pelampung (menjaga jaring tetap mengapung), tali pemberat (menenggelamkan bagian bawah jaring), kawat cincin (mengencangkan dasar jaring melalui ring-ring di sepanjang tepi bawah), dan tali ring (menghubungkan ring ke tali pemberat). Di anjungan, kapal pukat cincin modern dilengkapi detektor kawanan ikan, Net Zonde (mengukur kedalaman jaring, kecepatan tenggelam, suhu air), sonar, dan GPS.
Tahapan operasi — biasanya berlangsung malam hari dengan lampu pemikat: (1) mencari kawanan ikan dengan sonar/detektor; (2) mengumpulkan ikan dengan menyalakan fish lamp tepat di atas lokasi kawanan; (3) menebarkan jaring — kapal pukat melingkari kapal lampu sambil melepas jaring dari buritan, berhati-hati agar kaki awak tidak terlilit jaring/tali; (4) mengencangkan cincin & mengangkat jaring — purse winch menggulung kawat cincin sampai dasar jaring tertutup rapat, sementara kapal lampu menahan posisi kapal pukat agar bentuk jaring tidak berubah; (5) penangkapan ikan — hasil tangkap dipindahkan ke kapal pengangkut memakai jaring segitiga/jaring celup atau pompa ikan.
Jaring insang menangkap ikan dengan dua mekanisme: penangkapan menusuk (ikan menerobos mata jaring lalu terjepit tubuhnya oleh benang jaring) dan penangkapan menjerat (duri/sirip ikan tersangkut di benang jaring). Berdasarkan kedalaman pemasangan, jaring insang dibagi menjadi lapisan permukaan, pertengahan, dan dasar; berdasarkan metode pemasangan, dibagi menjadi tetap dan hanyut. Kombinasi keduanya menghasilkan enam variasi, namun tiga jenis paling umum dipraktikkan adalah:
| Jenis jaring insang | Target tangkapan utama |
|---|---|
| Jaring insang dasar (tetap) | Haring (Nishin), catfish (Gigi), gulama (Guchi/Nibe), sea bream (jenis Tai), horse mackerel (jenis Aji), ikan sebelah (Hirame), hiu, kepiting |
| Jaring insang tetap permukaan | Haring, sarden (Iwashi), ikan terbang (Tobiuo), makarel (Saba), salmon/trout (jenis Sake/Masu), hiu |
| Jaring insang hanyut | Marlin (jenis Kajiki), cakalang (Katsuo), tenggiri (Sawara), salmon/trout, makarel, hiu, haring, saury (Sanma), ekor kuning (Buri) |
Ditambah satu varian khusus, jaring insang tiga lembar (trammel net), untuk ekor kuning, selangat (Konoshiro), seabass Jepang (Suzuki), ikan sebelah, rockfish (Mebaru), ikan baji-baji (Kochi), sotong, cumi-cumi, dan udang windu.
Jaring insang yang paling umum adalah jaring insang dasar tetap satu lembar (single gillnet) — dipakai luas di perikanan pesisir & lepas pantai karena variasi desainnya paling banyak. Bahan & benangnya harus: sulit terlihat di air, lembut, cukup kuat menahan renang ikan, cukup lentur menahan ikan di mata jaring, sekaligus mata jaringnya tetap kokoh menahan ikan yang terjebak. Faktor desain terpenting adalah ukuran mata jaring (disesuaikan spesies & ukuran ikan target) dan rasio penggantungan — perbandingan panjang jaring saat direntangkan dengan panjang setelah dikerutkan ke tali pemasangan; jaring insang tipe "menusuk" umumnya berasio kecil, sedangkan tipe "menjerat" berasio besar. Tali pemberat biasanya 3–10% lebih panjang dari tali pelampung agar jaring tegak sempurna di air, meski pada jaring insang dasar rasio ini bisa dibalik jika jaring memang perlu direbahkan menyesuaikan target.
Ukuran jaring dinyatakan dengan mesh depth (jumlah mata jaring searah lebar — standar pabrik 100 atau 200 mata) dan panjang jaring (umumnya sekitar 50 m per lembar). Untuk pelampung, bahan modern memakai plastik resin sintetis (dulu kayu/bambu/gabus) — ada jenis padat berisi dan jenis berongga tengah, serta bentuk tembus lubang tali atau bentuk pipih yang diikat dua tali. Pemberat lazimnya dari timah berbentuk tong berlubang, atau tali timbal yang dipilin. Warna benang jaring modern (abu-abu multi-filamen atau biru muda) dipilih agar berkontras rendah dengan latar air sehingga sulit dikenali ikan.
Teknik merajut & menyambung jaring. Bagian tepi jaring (fuchiami/srampat) dirajut dengan benang lebih tebal (± 2× benang badan jaring/miami) untuk memperkuat, lalu diikat dengan tali ris samping (mimiito) dan tali pengikat (tomeito). Untuk mengikat jaring ke tali pelampung/pemberat, benang pintal poliamida jadi pilihan umum karena permukaannya cukup kasar untuk pengikatan dan harganya terjangkau; posisi ikatan diukur dengan menandai tali & jaring secara bersamaan, atau dengan menghitung jumlah mata jaring per interval pengikatan sesuai target penyusutan.
Struktur dasar jaring pukat hela terdiri dari sayap jaring (mengumpulkan hewan di depan mulut jaring), badan jaring, dan kantong jaring (mengumpulkan ikan di ujung) — ukuran mata jaring terbesar ada di ujung depan sayap dan mengecil bertahap hingga terkecil di kantong. Tali ris atas & tali ris bawah menopang bentuk jaring dari ujung sayap ke badan jaring. Ada tiga metode penarikan pukat hela dasar:
Pencegahan bahaya. Ruang kerja di kapal pukat dasar sempit & terus bergoyang, ditambah kawat penarik dan mesin derek yang aktif beroperasi — awak wajib ekstra waspada di sekitar winch yang sedang bekerja, di sekitar tali/kawat yang tegang kencang, di sekitar landasan tarik (slipway), di bawah menara derek saat jaring digantung, di kedua sisi kapal saat oleng, dan di geladak yang licin oleh darah & lemak ikan.
Jaring tetap adalah salah satu alat tangkap terpopuler di perikanan pesisir Jepang karena mampu menangkap beragam spesies ikan dalam keadaan hidup — memudahkan penyesuaian pengiriman & menghindari kerugian besar akibat hasil tangkap berlebih pada satu waktu. Jenis yang paling berkembang di Jepang adalah Otoshi Ami (Trap Net), tersusun dari empat elemen dasar:
| Elemen | Fungsi |
|---|---|
| Kaki Ami (jaring penaju) | Jaring tunggal memanjang dari jaring pengurung ke arah pantai; mata jaringnya sangat besar (90–30 cm, ikan bisa lewat secara fisik) dan berfungsi mengubah arah migrasi kawanan ikan agar menuju pintu masuk jaring pengurung. |
| Kakoi Ami (jaring pengurung) | Kurungan besar pertama yang menerima kawanan ikan yang masuk; menghentikan migrasi & menahan ikan sampai mencapai jaring menaik. |
| Nobori Ami (jaring menaik) | Terdiri dari bagian luar (membentuk area gerak bersama Kakoi Ami) dan bagian dalam (memperkuat fungsi jebakan & mencegah ikan keluar); menghubungkan jaring pengurung dengan jaring kotak. |
| Hako Ami (jaring kotak) | Menerima kawanan ikan dari jaring menaik, mengumpulkan & menahannya sambil menunggu waktu diangkat. |
Bila jaring memakai dua jaring menaik & dua jaring kotak secara berseri, strukturnya disebut jaring tetap kotak dua tingkat.
Proses pengangkatan jaring (hauling). Dikerjakan 1–3 kapal berbobot 5–20 ton; kapal komando pusat ("kapal Onaka") diapit kapal-kapal pembantu (disebut kapal Wakitsuki) di sisi lepas pantai maupun darat. Urutannya secara garis besar: kapal-kapal masuk melalui lorong ("lockout") di antara ujung luar & dalam jaring tetap → kapal besar diposisikan di tengah & dihubungkan tali ke kapal-kapal bantu → tali pengikat direntangkan & diikatkan ke tali tegangan inti → tali penarik jaring digantung agar dasar jaring tetap dekat permukaan sambil pintu jaring kotak dibiarkan terbuka → tali penegang dikendurkan bertahap dari ujung tanjakan bagian dalam → jaring bagian bawah diangkat perlahan memakai ball roller atau vertical roller (capstan) → jaring & tali ditarik bertahap ke permukaan sambil dikencangkan mengarah ke posisi penangkapan → kapal-kapal membentuk formasi U mengelilingi jaring utama → ikan dikumpulkan dengan jaring celup ("pengumpulan ikan") → jaring dilepas dari tali pancing & dikembalikan ke posisi semula untuk siklus berikutnya.
Pengolahan hasil tangkap. Ikan disimpan hidup-hidup di tangki atau di gudang berisi campuran es & air laut selama pengangkutan ke pelabuhan agar kesegarannya terjaga — penting terutama di musim panas karena ikan hidup/segar dijual dengan harga lebih tinggi.
Pencegahan bahaya. Berhati-hati agar tidak tersangkut poros putar/alat penarik saat mengangkat jaring; jaga jarak aman dari mesin saat mengangkat ikan dengan derek; waspadai jari tersangkut saat menarik jaring/tali; ekstra waspada saat ombak/angin kencang karena kapal mudah terombang-ambing; ingat garis air kapal jaring tetap yang rendah membuatnya rawan kemasukan air/orang jatuh ke laut; dan berhati-hati agar tidak tersangkut tali saat menurunkan jangkar atau kapal lain ke laut.
Perikanan bubu menangkap makhluk dasar laut (terutama kepiting & udang) dengan keranjang berumpan yang diberi simpul/jaring khusus agar hasil tangkap tidak bisa keluar begitu masuk. Beberapa bubu diikatkan pada tali cabang yang menggantung di tali utama, lalu dibenamkan ke dasar laut. Berdasarkan bentuknya, bubu dibagi menjadi:
| Bentuk bubu | Karakteristik & target umum |
|---|---|
| Kerucut | Stabil saat diletakkan di kapal & praktis ditumpuk; dipakai luas di Jepang, AS, Kanada — untuk kepiting, udang, dan kerang/siput (masing-masing punya jumlah & posisi lubang berbeda). |
| Persegi panjang | Cenderung mengikis sudut jaring saat dipakai; jarang di Jepang (mis. belut conger di Saga, lobster berduri di Miyazaki) tapi umum di AS untuk kepiting raja & kepiting salju. |
| Kamaboko (setengah silinder) | Praktis dibuat dari rangka kayu/bambu; dipakai luas dunia untuk lobster berduri, dan di Jepang untuk ikan buntal (Nagasaki, Kumamoto) serta sotong (Wakayama). |
| Lipat | Bisa dilipat sehingga banyak bubu muat di kapal kecil; dipakai menangkap kepiting biru (Shizuoka, Kagoshima). |
Hasil tangkapan bubu umumnya bermutu tinggi: kepiting, udang, siput (Bai/Tsubu), belut conger (Anago), ikan buntal, dan cumi-cumi — dengan andalan utama "kepiting salju merah" dan "udang merah muda".
Perikanan bubu kepiting terutama dilakukan di Laut Jepang, menyasar kepiting salju merah & kepiting salju, memakai kapal 70–100 ton berawak 8–10 orang (kapal lebih kecil berawak 6–7 orang). Satu deret bisa berisi hingga 150 bubu sepanjang 6–10 km. Tahapan kerjanya: menentukan lokasi berdasarkan riwayat tangkapan, suhu air, kedalaman, & kualitas dasar laut → memasang tali arus dangkal berbendera dari buritan kiri → mengikat & melempar tali utama, tali lempar, dan pemberat batu → menurunkan tali cabang berisi bubu berumpan (tenggiri/cakalang) ke laut, maksimal tiga set (450 bubu) sekaligus → saat mengangkat, bubu ditarik ke tiang berpengait & diangkat derek, kepiting dikeluarkan & disortir besar/sedang/kecil ke wadah berisi es. Untuk perlindungan sumber daya, kepiting betina dan kepiting jantan berlebar cangkang di bawah 9 cm wajib dilepas kembali ke laut; penangkapan di kedalaman lebih dari 800 m dan penggunaan bubu bermata jaring kurang dari 15 cm dilarang; dan setiap bubu dibatasi maksimal 150 ekor.
Perikanan bubu udang menyasar terutama udang utara/Amaebi (udang manis) — sumber daya udang terbesar di Laut Jepang, tersebar dari Hokkaido hingga lepas pantai Tottori — memakai bubu kerucut berbukaan samping. Tahapan kerjanya serupa bubu kepiting: menentukan lokasi dengan fish finder, memasang tali arus dangkal berbendera, mengikat & melempar tali utama-tali lempar (25–45 m)-pemberat batu, lalu menurunkan tali cabang (± 3 m) berjarak 5–8 m antar bubu. Udang hasil tangkap langsung dimasukkan ke tangki berisi air laut ± 0℃ beroksigen, lalu disortir di pelabuhan berdasarkan hidup/mati, besar/kecil, dan ada/tanpa telur (preferensi harga berbeda tiap wilayah Jepang).
Metode ini terutama dipakai menangkap saury Pasifik (Sanma) pada malam hari: lampu pemikat ikan dinyalakan untuk menarik & mengumpulkan kawanan ikan ke dekat lambung kapal, lalu jaring persegi panjang yang salah satu sisinya diikat pada galah bambu apung ("muko-dake") direntangkan mengelilingi kawanan tersebut sebelum ditarik ke atas.
Komposisi alat tangkap. Jaring penyangga galah terdiri dari jaring utama (dibagi jadi bagian jaring lepas pantai, bagian bawah, bagian depan sisi kapal, dan bagian samping sisi buritan) yang dikelilingi tepi jaring; pemberat dipasang di sudut-sudut jaring depan & samping agar cepat tenggelam. Galah bambu (kini banyak berupa pipa FRP) menopang jaring mengapung di permukaan — bila daya apung satu galah kurang, beberapa galah diikat jadi satu atau ditambah pelampung. Lampu sorot dipasang di kedua sisi anjungan & buritan, sementara lampu penarik ikan (kini umumnya LED, dulu pijar/halogen/logam halida) disusun dalam panel di tiang lampu yang dijulurkan 30–45° dari permukaan laut sepanjang 5–15 m agar cahayanya optimal mengarahkan ikan ke tengah jaring. Lampu merah dipakai khusus untuk menenangkan & memadatkan kawanan ikan yang sudah terkumpul di dekat permukaan sebelum jaring ditarik.
Tahapan operasi (berlangsung dari matahari terbenam hingga fajar, memanfaatkan sifat fototaksis/tertarik cahaya ikan saury): (1) pencarian dengan lampu sorot, sensor, dan alat pencari ikan; (2) pengumpulan ikan — semua lampu penarik dinyalakan & kapal diarahkan ke kawanan ikan; (3) mengarahkan ikan & menebar jaring — lampu sisi kiri dimatikan agar ikan bergerak ke kanan, sementara jaring tongkat dilemparkan dari sisi kiri & kapal digerakkan perlahan ke kanan; (4) memandu & mengumpulkan — lampu merah dinyalakan di tiang kiri agar ikan tenang & berenang rapat di permukaan; (5) menarik jaring/mengencangkan cincin — tali penarik & beban di dasar jaring digulung derek multi-tahap secara bersamaan; (6) mengencangkan jaring dengan side roller & ball roller hingga terbentuk "kolam ikan"; (7) mengumpulkan ikan — pipa pompa ikan dimasukkan ke kolam ikan untuk menghisap hasil tangkap ke palka; (8) penyimpanan — palka diisi campuran es & air laut atau air laut dingin untuk menjaga kesegaran ikan sauri.
Selain saury, metode jaring tangkap batang skala kecil (kapal ≤20 ton) juga dipakai untuk teri, sarden Jepang, haring Pasifik, dan beberapa jenis tenggiri kuda, meski jumlah operasinya jauh lebih sedikit.
Materi di atas dirangkum & disusun ulang dari "Buku Teks Untuk Keterampilan Perikanan (Perihal Perikanan Jaring)" terbitan Asosiasi Perikanan Jepang (大日本水産会), untuk keperluan belajar mandiri persiapan ujian 特定技能1号 sektor 漁業. Dokumen sumber menyertakan banyak diagram konstruksi jaring & foto peralatan yang tidak sepenuhnya tertuang di sini — gunakan tombol "Baca Modul" di atas untuk melihatnya langsung.