Memuat…
Memuat…
介護 · Bab 4
Teknik praktis membantu pengguna berpindah posisi & berjalan (termasuk hemiplegia dan kursi roda), tahapan menelan dan cara menyuapi makan yang aman, serta perawatan ekskresi: toilet, pispot, dan penggantian popok.
Modul ini membuka subjek Keterampilan Dukungan Kehidupan (生活支援技術) dari materi Ujian Evaluasi Keterampilan Khusus sektor 介護 (Kaigo), mencakup tiga jenis perawatan fisik dasar sehari-hari: berpindah (移乗), makan (食事), dan ekskresi (排せつ).
Berpindah memperluas jangkauan aktivitas pengguna dan berpengaruh pada pemeliharaan kondisi fisik & mental — semua aktivitas kehidupan (makan di kantin, ke toilet, mandi) terhubung dengan kemampuan berpindah. Ini berkaitan dengan ADL (Activities of Daily Living) — gerakan dasar untuk hidup mandiri seperti bergerak, makan, berpakaian, buang air, mandi — dan IADL (Instrumental ADL) — kemampuan lebih kompleks seperti mengelola uang, belanja, mencuci, dan bertransportasi.
Bila pengguna beristirahat terlalu lama atau kurang aktif, dapat timbul sindrom disuse (廃用症候群) — hipotensi ortostatik, gangguan gizi, penurunan fungsi jantung-paru-organ dalam-indra-mental, atrofi otot & tulang, kontraktur, dan dekubitus/luka baring (褥瘡). Dekubitus dicegah dengan: beranjak dari tempat tidur jika memungkinkan, mengubah posisi secara periodik, dan mengasup gizi cukup — area rawan dekubitus adalah bagian sakral, tumit, siku, belikat, dan kranium.
| Alat bantu | Karakteristik |
|---|---|
| Tongkat berbentuk T | Ringan & mudah dioperasikan |
| Tongkat multikaki | Daya dukung lebih luas — untuk pijakan tidak stabil atau tungkai lemah |
| Alat bantu jalan | Area penopang lebih luas dari tongkat, lebih stabil |
| Alat pemindah (langit-langit/lantai) | Mengurangi beban fisik staf perawat lansia saat memindahkan pengguna |
Prosedur dasar berlaku untuk semua praktik perawatan fisik: (1) periksa kondisi fisik pengguna, (2) jelaskan tujuan & detail tindakan lalu dapatkan persetujuan, (3) atur ketinggian tempat tidur agar nyaman bagi staf maupun pengguna.
Berjalan dengan tongkat pada pengguna hemiplegia memakai dua pola langkah: 2 gerakan (tongkat & sisi sakit maju bersamaan, lalu sisi sehat) yang lebih cepat namun kurang stabil, atau 3 gerakan (tongkat → sisi sakit → sisi sehat) yang lebih stabil. Saat naik tangga: tongkat → kaki sehat → kaki sakit, staf berada satu langkah di belakang-bawah pengguna. Saat turun tangga: tongkat → kaki sakit → kaki sehat, staf berada satu langkah di depan-bawah.
Kursi roda: selalu periksa tekanan ban & kondisi rem sebelum dipakai, dan selalu aktifkan rem parkir saat kursi roda berhenti — sekalipun tidak ada orang di atasnya. Pengidap hemiplegia berpindah dari sisi sehat terlebih dahulu. Saat menuruni undakan, roda penggerak diturunkan perlahan sambil staf menghadap ke belakang; saat menuruni lereng curam, kursi roda dihadapkan ke belakang agar pengguna tidak merosot jatuh.
Makan bukan sekadar memasukkan gizi — ia menciptakan ritme hidup lewat rangsangan ke otak dan menjadi kesempatan komunikasi antar-manusia. Proses menelan makanan berlangsung lima fase: fase pendahuluan (mengenali warna/bentuk/bau makanan, sekresi saliva) → fase persiapan & rongga mulut (mengunyah & membentuk gumpalan/bolus makanan) → fase faring (refleks menelan, epiglotis menutup mencegah bolus masuk trakea) → fase esofagus (bolus diteruskan ke lambung). Gangguan pada alur ini disebut gangguan makan & menelan, dan berisiko menyebabkan pneumonia aspirasi.
| Bentuk makanan | Karakteristik |
|---|---|
| Makanan cincang | Dicincang agar lebih mudah dimakan |
| Makanan pasta | Dihaluskan menjadi bentuk pasta |
| Makanan lunak | Bentuk aslinya dipertahankan, tapi teksturnya lebih lunak |
| Makanan kental | Dikentalkan agar pengguna dengan fungsi menelan menurun tidak tersedak |
Postur makan yang benar: duduk di kursi dengan telapak kaki menapak lantai, tubuh sedikit condong ke depan, dagu ditarik turun (bukan diangkat — dagu terangkat berisiko salah menelan/aspirasi). Bila makan di tempat tidur, sandaran dinaikkan dan bantal diselipkan agar dagu tetap turun; pengguna hemiplegia dibaringkan dengan sisi sehat di bawah.
Langkah menyuapi makan: periksa kondisi fisik & pastikan tidak ada pantangan makanan (obat/alergi) → pindahkan ke meja makan → letakkan makanan pada posisi yang terlihat pengguna → staf duduk di sisi tangan dominan/sisi sehat pengguna (bukan berdiri, karena membuat dagu terangkat) → jelaskan menu → minta pengguna minum cairan dulu untuk membasahi mulut → suapi sesuai kecepatan makan pengguna, dari sudut mulut sisi sehat untuk pengguna lumpuh, dengan sendok ditarik mendatar (bukan ke atas) → jangan mengajak bicara saat pengguna mengunyah → setelah selesai, lakukan perawatan rongga mulut dan minta pengguna tetap duduk sekitar 30 menit untuk mencegah pneumonia aspirasi.
Untuk pengguna dengan gangguan penglihatan, gunakan metode posisi jam untuk menjelaskan letak makanan di piring (mis. "sumpitnya di posisi pukul 6").
Ekskresi mengeluarkan zat tak diperlukan (urine, feses, keringat, karbon dioksida) dan mencerminkan kondisi kesehatan pengguna — namun juga tindakan yang disertai rasa malu, sehingga perlu dukungan yang memahami perasaan pengguna.
| Kondisi | Normal | Tidak normal |
|---|---|---|
| Urine | 1000–1500 ml/hari, 4–6 kali/hari, tidak berbau, kekuningan pucat hingga transparan | Poliuria (2000–3000 ml), oliguria (300–500 ml), sering buang air kecil, bau amonia kuat, keruh/kecokelatan/merah |
| Feses | 1–2 kali/hari, kecokelatan | Sedikit (konstipasi), atau berwarna merah/hitam/putih |
Peralatan ekskresi disesuaikan dengan kondisi pengguna: toilet portabel (bagi yang masih punya keinginan berkemih/defekasi tapi sulit ke toilet biasa), pispot urine/feses (bagi yang terbaring atau sulit duduk), dan popok/pembalut (bagi yang mengalami inkontinensia atau sulit memakai toilet).
| Gangguan | Jenis & poin perawatan |
|---|---|
| Inkontinensia urine | Stres (mengompol saat batuk/bersin), urgensi (tidak sempat ke toilet), luapan (akibat prostat membesar), refleks (tanpa keinginan berkemih, akibat cedera medula spinalis), fungsional (akibat demensia/gerakan lambat) |
| Konstipasi | Fungsional (akibat fungsi tubuh) atau organik (akibat tumor/peradangan); tangani dengan hidrasi, serat makanan, olahraga, dan kebiasaan ekskresi teratur |
| Diare | Cegah dehidrasi dengan air putih hangat/minuman olahraga; bersihkan area anus untuk cegah iritasi kulit; diare akut wajib dilaporkan ke tenaga medis karena berisiko penyakit menular |
Perawatan di toilet (contoh pengguna hemiplegia kiri): pandu ke toilet → minta berpegangan pada pegangan tangan dengan sisi sehat → staf di sisi sakit menurunkan celana → pastikan posisi duduk stabil di dudukan toilet → staf keluar & tutup pintu untuk privasi → masuk kembali setelah ada isyarat selesai → minta pengguna menaikkan pakaian dalam semaksimal mungkin sambil duduk (mengurangi beban saat berdiri) → pastikan pakaian sudah rapi sebelum keluar toilet.
Penggantian popok: siapkan alat & jaga privasi dengan tirai/handuk → lepas popok kotor dan gulung dengan sisi kotor di dalam → bersihkan area genital dengan air hangat sesuai suhu tubuh (untuk wanita, seka dari uretra ke arah anus untuk cegah infeksi) → keringkan dengan handuk → pasang popok baru dengan ruang 2-3 jari di abdomen & paha agar tidak terlalu ketat (tekanan berlebih menyebabkan gatal) → rapikan pakaian & seprai (kerutan bisa memicu dekubitus) → pastikan sirkulasi udara ruangan dan kondisi fisik pengguna terakhir kali.