Memuat…
Memuat…
木材産業 · Bab 3
Alur produksi tujuh kategori produk kayu: dari kayu gergajian, kayu laminasi, kayu lapis & LVL, papan venir, lantai kayu, serpih kayu, hingga kayu pra-potong.
Modul ini merangkum Bab 3 materi 特定技能1号 bidang 木材産業, yang menjelaskan tahapan proses manufaktur setiap kategori produk kayu di pabrik.
1. Pengupasan (barking). Menghilangkan kulit pohon dari kayu gelondongan memakai mesin barker, untuk mencegah kerusakan mata gergaji, mempermudah pemotongan, dan mencegah kulit tercampur ke serpihan sisa kayu.
2. Pemotongan kayu. Menentukan dari posisi mana kayu gelondongan dipotong dan produk apa yang akan dihasilkan — salah satu pekerjaan terpenting karena hasil (rendemen) dan nilai produk sangat bergantung padanya.
3. Penggergajian. Penggergajian kayu gelondongan menjadi flitch/produk setengah jadi disebut pembelahan besar; menjadi ukuran lebih kecil disebut pembelahan sedang; menjadi produk jadi disebut pembelahan kecil — memakai mesin gergaji pita/bundar berpengumpan. Pemotongan tepi papan berkuping untuk menentukan lebar disebut mimisuri (pakai mesin edger); pemotongan untuk menentukan panjang disebut yokogiri (pakai trimmer/cross cut-off saw).
4. Pengeringan. Kayu berkadar air tinggi akan menyusut & berubah bentuk/retak seiring waktu, sehingga perlu dikeringkan agar sesuai lingkungan pemakaiannya.
| Metode | Keterangan |
|---|---|
| Pengeringan alami | Ditumpuk di luar ruangan berjarak, tegak lurus arah angin utama, dinaungi atap dari matahari/hujan langsung. Memakan waktu lama, tak cocok untuk bahan mudah retak/berjamur/busuk. |
| Pengeringan buatan | Memakai mesin pengering dengan kontrol suhu, kelembapan, tekanan sesuai "jadwal pengeringan" (berdasarkan jenis kayu & tebal papan). Tipe: uap (paling umum), dehumidifikasi, kombinasi frekuensi tinggi, tekanan rendah. |
5. Penyortiran, pengikatan, pengiriman. Pemilahan berdasarkan ukuran/kelas/tujuan disebut penyortiran; pengemasan kayu sekelas & seukuran memakai sabuk pengikat disebut pengikatan (mesin sortir otomatis & mesin pengikat). Produk lalu dibungkus plastik untuk melindungi dari kelembapan, kotoran, dan goresan sebelum dikirim.
1. Bahan baku. Papan gergajian bahan baku disebut lamina — sekitar setengah kayu laminasi Jepang dibuat dari lamina kering impor (terutama Eropa), sisanya digergaji sendiri dari kayu gelondongan.
2. Pemeriksaan kadar air & pemotongan pendahuluan. Kadar air lamina (harus ≤15%) diukur dengan alat pengukur gelombang mikro, lalu disesuaikan ukurannya dengan molder.
3. Pemeringkatan (grading). Lamina dipilah berdasarkan kualitas/tingkat kekuatan secara visual atau dengan mesin grading (stress grading machine) yang mengukur modulus elastisitas.
4. Sambungan memanjang & melebar. Cacat seperti mata kayu/goresan besar dihilangkan, lalu lamina pendek disambung memanjang (tatetsugi) memakai metode finger joint agar sesuai panjang produk. Bila lebar lamina kurang, disambung ke arah lebar (habahagi).
5. Pemotongan lamina. Permukaan lamina yang telah dipilah dihaluskan dengan planer sebagai persiapan laminasi.
6. Penstrukturan. Perangkaian lamina agar mencapai tingkat kekuatan yang dibutuhkan (jarak antar titik sambungan finger joint yang berdekatan minimal 15 cm). Kayu laminasi dari lamina sejenis & sekualitas disebut komposisi sama; dari kualitas berbeda disebut komposisi berbeda (umum untuk balok penopang atap, modulus elastisitas tinggi di luar & rendah di dalam).
7. Perekatan laminasi. Permukaan lamina diolesi perekat, ditumpuk & ditekan ("perekatan laminasi"). Perekat umum: resin polymer-isocyanate berbasis air dan resin resorsinol, tergantung penggunaan akhir.
8. Penyelesaian & pemeriksaan. Keempat sisi kayu laminasi diproses dengan planer untuk penyesuaian ukuran; diperiksa visual, lubang mata kayu ditambal dengan resin sintetis.
1. Pemrosesan kayu gelondongan. Kulit dikupas (barker), dipotong sesuai panjang, dikukus (steam) agar mudah dipotong — sambil diperiksa & disingkirkan bila ada logam/benda asing menempel.
2. Pemotongan. Memakai rotary lathe (veneer lathe): pusat rotasi batang ditentukan dengan log charger, lalu dipotong menjadi lembaran venir tebal 0,6-5,0 mm. Cacat (mata kayu, retak) dihilangkan dengan veneer clipper, lalu dipotong sesuai panjang.
3. Pengeringan lembaran venir. Venir baru dipotong ("venir mentah") berkadar air tinggi sehingga dikeringkan dengan dryer hingga ±10%. Suhu pengeringan dinaikkan hingga 160-180°C, disesuaikan jenis kayu & musim.
4. Pengaturan papan. Cacat diperbaiki, venir kurang lebar disambung (habahagi). Venir disortir menjadi face (permukaan), center core/crossband (tengah), dan back (belakang), lalu ditumpuk dengan arah serat ortogonal (90°) satu sama lain — disebut penstrukturan, dilakukan otomatis dengan veneer assembly equipment.
5. Perekatan. Perekat dioleskan pada kedua sisi papan tengah dengan glue spreader, direkatkan dalam jumlah lembar ganjil (3, 5, 7, dst). Resin fenol umum untuk kayu lapis konstruksi; resin melamin & urea untuk kayu lapis pertukangan.
6. Pengepresan dingin & panas. Ditekan sementara pada suhu ruang dengan mesin cold press (±20 menit), lalu ditekan dengan hot press pada tekanan 8-12 kgf/cm² & suhu 110-135°C untuk mengeraskan perekat. Setelah itu didiamkan 3-7 hari agar performa perekat stabil.
7. Pemotongan ukuran, pemolesan, pemeriksaan. Keempat sisi dipotong & disesuaikan ukuran memakai double sizer, permukaan dipoles dengan sander/planer, dan setiap lembar diperiksa sebelum dikirim.
1. Penggergajian. Kayu gelondongan digergaji menjadi balok "flitch" sambil memeriksa arah serat, mata kayu, dan cacat agar diperoleh serat yang indah.
2. Pendidihan. Flitch direbus dalam air hangat 40-90°C untuk melunakkan, menyeragamkan kadar air, menghilangkan alkali, dan memperbaiki warna kayu. Suhu & durasi tergantung jenis & kondisi kayu.
3. Pemotongan. Flitch dipotong tipis 0,2-3,0 mm dengan mesin pengiris (veneer slicer) atau rotary lathe. Pengirisan bersinggungan lingkaran tahun menghasilkan pola itame (potongan tangensial); pengirisan tegak lurus lingkaran tahun menghasilkan masame (potongan radial); pemotongan dengan rotary lathe menghasilkan pola tak beraturan mokume, memungkinkan papan lebar & kontinu.
4. Pengeringan. Papan venir tipis dikeringkan agar tidak berjamur/berubah warna — metode: alami, udara panas, rol, atau frekuensi tinggi (paling umum).
5. Manufaktur produk. Perekatan umumnya manual oleh pekerja terampil: perekat dioles merata ke bahan dasar, papan venir disusun rapat tanpa celah. Metode perekatan menciptakan corak berbeda — misalnya slip match (lembar sama lebar direkat berdampingan, arah sama), book match (tiap sela dibalik, pola selang-seling), serta yabanehari, intan, dan intan inversi.
1. Pemeriksaan & penyesuaian kayu lapis. Kayu lapis ±9 mm sebagai bahan dasar diperiksa ketebalan & kondisi perekatannya, disesuaikan dengan sander bila perlu.
2. Perekatan MDF & lembaran venir. Lapisan MDF 3 mm ditempel pada permukaan kayu lapis, lalu papan venir alami/lembaran olefin ditempel di atasnya, ditekan dengan hot press. Perekat umum: poliuretan & resin epoksi.
3. Pemotongan sesuai ukuran. Dipotong dengan gergaji bundar/pita menjadi ukuran lantai umum 300×1.800 mm.
4. Pemrosesan permukaan. Alur vertikal (kadang horizontal) diproses dengan router/pemotong alur untuk desain permukaan.
5. Pemrosesan aktual (sane/fitting). Sisi pinggir diproses agar terdapat lekukan & tonjolan yang saling mengunci — fitting jantan (menonjol) dan fitting betina (melekuk) — memakai end tenoner/molder, agar papan lantai saling terhubung & tidak bergeser.
6. Pewarnaan & pelapisan. Permukaan lantai solid/komposit berpapan venir alami umumnya diwarnai/dilapisi dengan roll coater atau flow coater; lapisan dicampur bahan pengeras ultraviolet.
1. Penghilangan kulit & benda asing. Untuk serpih bahan kertas, kulit dihilangkan dengan barker (untuk bahan bakar, kulit tidak dihilangkan). Untuk serpih dari sisa bongkaran/kayu buangan, batu/beton/logam disingkirkan lebih dulu agar tak merusak mesin pencacah; logam kecil (paku/baut) disingkirkan setelahnya dengan pemisah magnetik.
2. Pemotongan & penghancuran. Serpih dari pisau pencacah (chipper knife) disebut serpih kayu dari pemotongan (bentuk persegi); serpih dari palu penghancur (hammer crusher) disebut serpih kayu dari penghancuran/pin chip/crusher chip (bentuk pin tipis memanjang).
3. Penyortiran. Disaring berdasarkan ukuran dengan chip screen.
4. Penyimpanan. Dua metode: silo atau penumpukan di tempat terbuka.
Aktivitas mikroba dalam tumpukan serpih kayu dapat menghasilkan panas dan memicu kebakaran spontan. Bila memakai metode silo, pastikan ventilasi memadai sebelum masuk ke silo tertutup agar tidak kekurangan oksigen atau menghirup jamur & debu.
1. Bahan baku & pemeriksaan kualitas. Karena pemuaian/penyusutan, puntiran, dan penyimpangan kayu bisa membuat sambungan (tsugite/shiguchi) tak terpasang baik, kayu kering & kayu laminasi makin banyak dipakai. Inspeksi dilakukan pada jenis kayu, ukuran, cacat (retak/puntiran/lengkungan), dan kadar air.
2. Input informasi desain (CAD). Data desain rumah diinput ke sistem CAD (Computer Aided Design) untuk membuat data ukuran material & bentuk sambungan yang diperlukan.
3. Pemrosesan komponen. Data CAD otomatis diubah menjadi data CAM (Computer Aided Manufacturing), lalu mesin pemrosesan berkendali komputer memotong komponen dengan kesalahan akurasi kurang dari 1 mm.
4. Pemeriksaan, pengemasan, pengiriman. Komponen diperiksa kesesuaiannya dengan data, dikemas per bangunan, dan dimuat ke truk sesuai urutan perakitan di lokasi konstruksi.